Tekanan hidup yang datang bertubi-tubi dapat membuat pikiran terasa sesak, sulit fokus, bahkan memicu gangguan fisik seperti jantung berdebar, nyeri kepala, hingga sulit tidur. Kondisi ini terjadi karena sistem saraf kita berada dalam mode “siaga”, seolah sedang menghadapi ancaman terus-menerus. Jika tidak segera ditenangkan, stres berkepanjangan bisa berdampak serius bagi kesehatan mental dan fisik. Oleh karena itu, penting memahami teknik menenangkan sistem saraf saat pikiran berada di bawah tekanan berat.
Sistem saraf terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu sistem saraf simpatik yang aktif saat stres, dan sistem saraf parasimpatik yang bekerja saat tubuh rileks. Tujuan dari berbagai teknik relaksasi adalah mengaktifkan sistem saraf parasimpatik agar tubuh kembali ke kondisi seimbang.
Salah satu teknik paling sederhana dan efektif adalah latihan pernapasan dalam. Saat stres, napas cenderung menjadi pendek dan cepat. Cobalah menarik napas perlahan melalui hidung selama empat detik, tahan dua detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut selama enam detik. Ulangi selama beberapa menit. Pola napas ini memberi sinyal kepada otak bahwa tubuh berada dalam kondisi aman, sehingga ketegangan perlahan menurun.
Selain pernapasan, gerakan tubuh ringan juga sangat membantu menenangkan sistem saraf. Tidak harus olahraga berat, cukup dengan berjalan santai, melakukan peregangan, atau yoga ringan di rumah. Aktivitas fisik memicu pelepasan endorfin yang secara alami membantu mengurangi stres dan memperbaiki suasana hati.
Teknik berikutnya adalah grounding atau melatih kesadaran pada saat ini. Ketika pikiran dipenuhi kecemasan, kita sering terjebak pada ketakutan akan masa depan atau penyesalan masa lalu. Grounding membantu pikiran kembali ke realitas saat ini. Caranya bisa dengan memperhatikan lima hal yang bisa dilihat, empat hal yang bisa disentuh, tiga suara yang terdengar, dua aroma yang tercium, dan satu rasa di mulut. Latihan sederhana ini sangat efektif meredakan kecemasan berlebihan.
Kualitas tidur juga berperan besar dalam menenangkan sistem saraf. Kurang tidur membuat otak lebih sensitif terhadap stres. Usahakan tidur cukup 7–9 jam per malam, hindari penggunaan gawai sebelum tidur, dan ciptakan suasana kamar yang tenang serta nyaman.
Tak kalah penting, mengungkapkan perasaan juga merupakan bagian dari proses menenangkan diri. Memendam emosi justru memperbesar tekanan dalam sistem saraf. Berbicara dengan orang terpercaya, menulis jurnal, atau sekadar menuangkan isi hati di kertas dapat membantu melepaskan beban emosional yang menumpuk.
Terakhir, batasi paparan informasi yang memicu stres berlebihan, terutama dari media sosial atau berita negatif. Otak membutuhkan ruang istirahat dari rangsangan yang terus-menerus agar dapat kembali bekerja secara seimbang.
Menenangkan sistem saraf bukanlah proses instan, tetapi dapat dilatih secara perlahan dan konsisten. Dengan menerapkan teknik-teknik di atas dalam kehidupan sehari-hari, pikiran akan menjadi lebih tenang, tubuh terasa lebih ringan, dan kemampuan menghadapi tekanan hidup pun semakin kuat.





